Selasa, 11 Januari 2011

NIKMATNYA HIDAYAH

NIKMATNYA HIDAYAH
Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alai wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.
Amma Ba’du:
Sesungguhnya di antara nikmat yang paling besar yang telah dianugrahkan oleh Allah subhanahu wa ta’alakepada hamba -Nya adalah nikmat mendapat hidayah kepada agama islam. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman tentang orang-orang Badui:
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. Al-Hujurat: 17).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi -Nya untuk mengingatkan beliau tentang nikmat ini:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'andengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antarahamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.(QS. Al-Syuro: 52)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk(QS. Al-Dhuha: 7)
Di dalam Al-Shahihaini dari Abdullah bin Zaid bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam berkata kepada kaum Anshor: Tidakkah aku mendapati kalian tenggelam dalam kesesatan lalu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada kalian karena aku?.[1]
Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan nikmat ini kepada para penghuni surga. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. (QS. Al-A’rof: 43)
Hidayah dapat dibagi menjadi dua:
Pertama: Hidayatud Dilalah wal Irsyad wal Balagh (hidyah dalam artian memberikan penjelasan, penerangan, dan menyampaikan kebenaran). Hidyah inilah yang disebut di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“…dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”. (QS. Al-Ra’du: 7)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Syuro: 52). Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala :
Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. Al-Maidah: 92)
Di dalam shahih Muslim bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda kepada Ali RA: Demi Allah, jika seandainya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada seorang lelaki karena usahamu maka hal itu lebih baik dari pada engkau memiliki onta merah”.[2]
Kedua: Hidayatut Taufiq (Hidayah dipermudah menerima kebenaran dan dibantu mendapatkannya). Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Allah berfirman kepada Nabi -Nya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki -Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshos: 56)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendakmemaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?. (QS. Yunus: 99)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari -Ku; "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (QS. Al-Sajdah: 13)
Di antara macam-macam hidayah adalah:
Allah subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepada seorang hamba untuk berbuat amal shaleh dan akhlak yang baik kepada manusia. Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok dari Abi Ayyub bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda: Ya Allah ampunilah segala kesalahan dan seluruh dosa-dosaku, berikanlah nikmat kepadaku, hidupkanlah aku, berilah rizki kepadaku, tunjukanlah aku perbuatan-perbuatan yang baik, sebab tidak ada yang memberikan petunjuk kepada amal yang baik kecuali Engkau dan tidak ada yang memalingkan seseorang  dari amal yang buruk kecuali Engkau”.[3]
Dan di antara hidayah yang paling besar adalah petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba -Nya untuk menegakkan tauhid dan menjauhi kesyirikan, sebab barang siapa yang menjalankan hal tersebut maka dia akan mendaptkan keamanan di dunia dan akherat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾ ( الأنعام: 82 )
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-An’am: 82)
Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam memohon kepada Tuhannya agar dirinya diberikan petunjuk. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits  Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammadshalallahu ‘alai wasallam bersabda: Ya Allah aku memohon kepada -Mu petunjuk, ketaqwaan, sikap iffah dan jiwa yang kaya”.[4]
Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam mendo’akan para shahabatnya agar mereka  mendapat petunjuk dan menerangkan kepada umatnya agar mereka melaksanakan hal yang sama. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah bahwa berkata: Aku telah mengadu kepada Nabi Muhammadshalallahu ‘alai wasallam bahwa aku tidak bisa menunggang kuda, maka Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam menepukkan tangannya pada dadaku dan berkata: Ya Allah teguhkanlah dia dan jadikanlah dirinya menjadi petunjuk dan mendapat petunjuk”.[5]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa dia berkata: Thufail bin Amru Al-Duawisi dan para shahabatnya datang kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam dan mereka berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya suku Daus enggan dan menolak maka berdo’alah kepada Allah agar mereka binasa, maka dikatakan: Suku Daud pasti binasa. Maka beliau bersabda: “Ya Allah berikanlah kepada suku Daus datangkanlah mereka!”.[6]
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ali RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam bersabda kepadanya: Katakanlah: Ya Allah berikanlah kepadaku petunjuk dan berikanlah ketepatan dalam langkahku, dan menyebutkan kata petunjuk, yang maksudnya adalah petunjuk dalam melangkahi perjalanan dan ketepatan sama seperti tepatnya panah mengenai sasaran”.[7]
Diriwayatkan oleh Al-Bikhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Al-Barro’ bin Azib berkata: Aku telah menyaksikan Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam pada hari perang Khandak, pada saat beliau menggali tanah, sehingga tanah tersebut melumuri rambut dadanya dan beliau adalah seorang lelaki yang banyak rambut dadanya tebal dan beliau melantuntkan pantun Abdullah:
Ya Allah, seandainya bukan karena -Mu, kami tidak mendapat petunjuk
Kami tidak bersedeqah dan tidak pula kami menunaikan ibadah shalat
Maka turunkanlah kepada kami ini ketenangan menyirami jiwa kami
Dan teguhkanlah kaki-kaki kami pada saat menghadapi semua musuh
Sesungguhnya para musuh telah melampaui batas saat menzalimi kami
Ketika mereka hendak memfitnah kami maka kamipun enggan terjebak [8]
Syaekhul Islam berkata: Dan seorang hamba selalu membutuhkan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala agar dirinya tetap di jalan yang lurus, dia selalu membutuhkan kepada tujuan do’a ini, sebab sesungguhnya tidak ada jalan keselamatan dari siksa dan tidak mungkin seseorang mencapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah, dan hidayah ini tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah”.[9]
Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Sesungguhnya jika seorang hamba beriman dengan kitab Allahsubhanahu wa ta’ala dan mengikuti petunjuknya secara umum, menerima segala perintahnya, membenarkan segala perintahnya, mempercayai semua yang diberitakannya, maka hal itu menjadi sebab baginya untuk mendapatkan petunjuk lain yang bersifat rinci, sebab hidayah tersebut tidak bertepi sekalipun seorang hamba telah mencapai tingakatan yang tinggi”.[10]
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (QS. Maryam: 76).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada merekapetunjuk; (QS. Al-Kahfi: 13).
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahukan bahwa orang yang diberikan petunjuk kepada agama ini, maka dia akan dilapangkan dadanya untuk menjalankan agama ini. Sebaliknya, orang yang dikehendaki keburukan dan kesesatan, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan membuat seseorang merasakan kesempitan dengan agama ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman(QS. Al-An’am: 125)
Di antara sebab agar seserang teguh dengan hidayah Allah subhanahu wa ta’ala adalah:
Do’a, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: Do’a yang sering diucapkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam adalah:
“Ya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa membolak balikkan hati teguhkanlah hati kami pada agamamu”. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sering mengucapakan do’a ini”. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya hati anak Adam ini  di antara dua jemari dari jari-jemari Allah Azza Wa Jalla, jika Dia berhendak menyesatkannya maka Dia mampu menyesatkannya dan jika Dia berkehendak meluruskannya maka Dia- pun mampu meluruskannya.”
Di antara sebab keteguhan dalam amal shaleh adalah seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman -Nya;
Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan mereka kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Nisa’: 66-68).
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

Selasa, 04 Januari 2011

Makna Kalimat Tauhid



Para ulama telah menyebutkan bahwa makna لا إله إلا الله ini mengandung beberapa syarat yang jika tidak terpenuhi maka dia tidak akan sempurna.
Dan syarat kalimat لا إله إلا الله adalah delapan, yaitu:
Pertama: Memahami maknanya, maksudnya dan apa-apa yang dilarangnya serta apa-apa yang menjadi tuntutannya.
قال تعالى: ] فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ [
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS. Muhammad: 19).
Pada riwayat Muslim di dalam kitab shahihnya dari Utsman radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammadsalallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebanarnya kecuali Allah maka dia pasti masuk surga”.[1]
Dan banyak manusia yang mengucapkannya dengan lisannya semata namun dia tidak mengetaui apaun dari artinya, oleh karena itulah mereka terjebak di dalam kesyirikan.
Kedua: Keyakinan yang menghilangkan keraguan, yaitu orang yang mengucapkannya harus meyakini apa-apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini. Dan jika di dalam hatinya terdapat keraguan terhadap apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini maka ucapannya tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.
قال تعالى: ] إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا  [
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. (QS. Al-Hujurat:  15).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, maka tidaklah seorang hamba yang bertemu Allah dengan meyakini kalimat tersebut dan dirinya tidak ragu dengannya kecuali dia akan masuk surga”.[2]
Ketiga: IKhlas yang menghapuskan kesyirikan. Seseorang tidak mengucpakannya karena riya’ atau sum’ah.
قال تعالى:  ] وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ  [
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada -Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al-An’am: 5).
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shihihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: orang yang paling bahagia dengan syaf’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dari dirinya”.[3]
Keempat: Kebenaran yang menghapuskan kebohongan. Dia mengucapkan kalimat لا إله إلا الله dengan benar bersumber dari hatinya.
قال تعالى: ] الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [
Alif laam miim (2) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. (3)Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. )QS. Al-Ankabut: 1-3).
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan ucapan yang benar-benar dari hatinya kecuali Allah mengharamkan dirinya dari api neraka”.[4]
Di dalam hadits ini disyaratkan pengucapan kalimat ini dengan sebenar-benarnya.
Kelima: Cinta yang menghapuskan kebencian. Dia mencintai kalimat ini dan apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini serta orang-orang yang berbuat dengan tuntutan kalimat ini.
قال تعالى: ] وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلهِ [
Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165).
Keenam: Tunduk terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini, yaitu tunduk yang menghapuskan sikap meninggalkan tuntutan kalimat ini. Maka wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk terhadap makna yang dikandung oleh kalimat لا إله إلا الله baik secara lahiriyah atau bathiniyah.
قال تعالى: ] وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ [
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, (QS. Al-Nisa’: 125)
Kepasrahan adalah bentuk ketundukan kepada perintah Allah Subahanahu Wa Ta’ala.
Ketujuh: Penerimaan yang menghapuskan penolakan. Maka wajib menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini baik berupa ibadah kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala semata tanpa mempersekutukan -Nya dengan sesuatu apapun dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah Subahanahu Wa Ta’ala, maka barangsiapa yang mengucapkannya namun dia tidak menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini maka dia termasuk orang yang dikatakan oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala di dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ] إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ [
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. (QS. Al-Shoffat: 35)
Kedelapan: Mengningkari setiap sesembahan selain Allah Subahanahu Wa Ta’ala seperti penyembahan terhadap tahagut dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah Subahanahu Wa Ta’ala semata.
قال الله تعالى: ] فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ [
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat. (QS. Al-Baqarah: 256).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari  Abi Malik dari bapaknya bahwa Nabi Muhammadsalallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan لا إله إلا الله dan meningkari penyembahan selain Allah maka harta dan darahnya menjadi haram dan perhitungan dirinya diserahkan kepada Allah”.[5]
Di antara keutamaan kalimat yang agung ini adalah:
Pertama: Akan dibukakan bagi orang yang mengucapkannya, delapan pintu surga. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ubadah bin Shamit radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subahanahu Wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi -Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya, dan Isa adalah hamba Allah Subahanahu Wa Ta’ala dan anak dari hamba Allah Subahanahu Wa Ta’ala dan kalimat -Nya yang dihunjumkan kepada Maryam dan ruh dari -Nya, dan surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya maka Allah Subahanahu Wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu manapun dari delapan pintu surga yang disukainya”.[6]
Kedua: Orang yang mengakui kebenaran kalimat ini sekalipun dia seorang pelaku maksiat dan dimasukkan ke dalam neraka akibat kemaksiatannya namun mereka tetap akan dikeluarkan dari api neraka. Di dalam kitab as-shahihaini dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Allah subahanhu wa ta’ala berfirman: Demi Keperkasaan -Ku, demi kemuliaan -Ku, demi kebesaran -Ku, demi keagungan -Ku, Aku akan mengeluarkannya dari neraka orang yang mengatakan (لا إله إلا الله)[7]
Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam Al-mu’jamul Ausath dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersada: Barangsiapa yang mengucapkan لا إله إلا الله maka ucapannya itu akan memberikannya manfaat pada suatu masa dan sebelum itu dia akan mendapatkan apa yang sebelumnya diperbuat oleh dirinya”.[8]
Ketiga: Barangsiapa yang mengucapkannya sebelum kematiannya dan dia meninggal  atasnya maka dia masuk surga. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang akhir kalamnya لا إله إلا اللهmaka dia pasti masuk surga”.[9]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.